Kamis, 28 Januari 2016

Entrepreneurship Perlu Masuk dalam Revolusi Mental Jokowi




Semangat entrepreneurship perlu dimasukkan dalam cakupan Revolusi Mental yang dikampanyekan oleh Presiden Terpilih hasil Pilpres 2014. Hal itu karena entrepreneur juga dapat dikatakan sebagai orang-orang yang sudah menjalani revolusi dalam diri mereka. Demikian ungkap Direktur Grup Ciputra, Antonius Tanan, dalam sambutannya di Get in the Ring 2014, Kamis lalu (10/9) di Jakarta.Sebagaimana kita ketahui, Joko Widodo menggagas konsep tersebut untuk memajukan bangsa.

"Spirit entrepreneurship saya berharap juga bisa didengarkan oleh bapak presiden baru kita, Pak Jokowi. Diharapkan beliau dapat memasukkan entrepreneurship menjadi bagian dari Revolusi Mental,"tutur Antonius yang sering terlibat dalam pelatihan bagi calon entrepreneur, guru dan dosen sejak tahun 2009 tersebut.

Menurut Antonius, seseorang yang sudah bisa menciptakan lapangan kerja sendiri (entrepreneur) adalah orang-orang yang sudah mengalami Revolusi Mental dalam diri dan kehidupan mereka. Dengan masih adanya asumsi bahwa mencari kerja itu lebih baik daripada menciptakan lapangan kerja, orang-orang yang berwirausaha menjadi kelompok yang masih cukup langka di negeri ini. Padahal jika mau lebih maju, Indonesia harus memiliki lebih banyak entrepreneur.

Yayasan Ciputra menjadi tuan rumah bersama dengan Global Entrepreneurship Program Indonesia (GEPI) untuk penyelenggaraan event Get in the Ring kali ini. Acara ini sendiri ialah sebuah kompetisi bagi entrepreneur yang menjanjikan pendanaan bisnis sebesar 1 juta euro bagi pemenangnya di kancah global. Pemenang GITR di Jakarta ini akan diikutkan dalam event berikutnya di Universitas Ciputra Surabaya dalam kompetisi lingkup kawasan Asia Pasifik hingga nantinya jika lolos bisa melaju ke Eropa. Selengkapnya: http://www.eciputra.com/berita-6166-entrepreneurship-perlu-masuk-dalam-revolusi-mental-jokowi.html

Berkat Teknologi Internet, Sapu Magelang Bisa Tembus Perancis

 Kesuksesan bisa diraih oleh siapa pun asalkan mempunyai kemauan dan kerja keras. Demikian ungkapan yang selalu dipegang oleh Vinasari Kusuma Ningrum (40), seorang pedagang sapu di Dusun Dendengan, Kelurahan Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang.
Vina berasal dari keluarga sederhana. Semula hanya seorang karyawan di sebuah pabrik kertas di Blabak, Kabupaten Magelang, kini bisa bekerja mandiri dengan hasil yang lebih dari cukup berkat usahanya memproduksi kerajinan produk sapu dan alat-alat kebersihan rumah lainnya.

Vina bercerita, usahanya dirintis mulai 2009 silam bersama sang suami, Zaenal Arifin (41), yang juga mantan karyawan pabrik kertas. Di saat kondisi ekonomi kedua pasangan itu surut, mereka justru memutuskan untuk berhenti bekerja dan memilih menjadi pengusaha.

“Kami nekat saja, karena tidak punya modal sendiri, kami pun mantap meminjam uang modal di bank ketika hendak memulai usaha ini,” ujar Vina seperti dilansir Kompas.com.

Sebelum membuat kerajinan sapu, kata Vina, mereka membuat kerajinan dari bambu untuk suvenir dan hiasan yang dikirim ke rekanan di Yogyakarta dan Bali. Sempat berjalan lancar, usahanya harus kuncup terimbas peristiwa bom Bali. Akibatnya, mereka tidak mampu membayar angsuran pinjaman modal di bank.

"Bisnis kami memang bagus pada awalnya. Tapi karena ada kejadian bom Bali membuat pihak rekanan menghentikan pesanan. Seketika kami bangkrut dan tak punya apa-apa, saat itu sulit sekali untuk bangun," tutur Vina.

Beruntung, Vina dan suami pantang menyerah, mereka bertekad untuk kembali membangun bisnis lagi. Sapu dan alat kebersihan rumah tangga menjadi pilihan karena di sekitar tempat tinggalnya banyak yang bisnis produk serupa. Namun, mereka ingin produk yang lebih berkualitas dan inovatif. Melalui media internet, mereka pun mencari penyedia bahan sapu dan kemoceng rafia yang berkualitas.

“Di sekitar kami banyak pengrajin sapu, tapi untuk bahannya satu pun tak ada yang menyediakan. Kami fokus pada peluang itu hingga akhirnya ketemu alamat di mana saya bisa beli bahan yang nantinya akan saya jual grosiran di rumah," papar wanita asli Kabupaten Wonosobo itu.

Vina kemudian mendapatkan penyedia bahan baku di Purbalingga, Jawa Barat, yang menurutnya berkualitas bagus. Sedikit demi sedikit ia memproduksi aneka alat kebersihan rumah, mulai dari sapu, kemoceng, sapu lidi, hingga keset.

Seiring berjalannya waktu, bisnisnya berkembang cukup bagus. Ia memanfaatkan jaringannya ketika masih berbisnis kerajinan bambu dahulu dan membuka jaringan baru yang lebih luas. Di antaranya dengan sistem online dan kerap mengikuti seminar, pelatihan, serta pameran-pameran yang kerap diadakan oleh instansi-instansi tertentu.

“Produk kami mulai banyak yang menyukai, karena kami memang mengutamakan kualitas. Sapu kami memang lebih berat, tapi kuat, megar, dan rapi. Harganya relatif murah, berkisar Rp 10.000–Rp 15.000 per buah,” urai Vina.

Peminat produk-produknya tidak saja dari Kota dan Kabupaten Magelang, tetapi juga dari Tegal, Bojonegoro, Medan, Pekanbaru dan bahkan pernah mengirim ke Perancis. Kebanyakan pelanggan mengetahui produknya dari website.

Dibantu oleh sembilan karyawannya, Vina bisa memproduksi sapu hingga 5 ton setiap dua minggu dan bisa bisa mengirim hingga 8 kali ke pelanggannya ke luar kota Magelang. Dalam dua hari saja omzet mereka mendapatkan omzet penjualan mulai Rp 2 juta – Rp 4 Juta.

Zaenal Arifin, suami Vina, menambahkan, dari bisnis sapu itu ia sudah cukup menopang ekonomi keluarga. Ia bahkan bisa membeli rumah, mobil, hingga bisa membuat bisnis lainnya. Seperti bisnis pakaian dan jasa fotokopi. “Alhamdulillah, ini hasil jerih payah kami,” ucap Zaenal.


Dirinya pun berharap pemerintah daerah untuk terus memberi dukungan kepada para pengusaha-pengusaha kecil di Magelang agar berkembang. Tidak sekadar mengadakan seminar maupun pelatihan, tetapi juga membantu pemasaran dan membeli produk-produknya.

Ganode, Tas Asal Sleman yang Berhasil Tembus Pasar Jepang



Tas kulit merk "Ganode" yang diproduksi oleh industri rumah tangga di Dusun Modinan, Desa Banyuraden, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, sukses menembus pasar internasional khususnya Jepang.

"Selama ini banyak mendapat order dari luar negeri, terutama Jepang. Pesanan bisa mencapai 20 ribu unit tas," kata pelaku usaha kerajinan tas kulit, Yuyun Afnan (31), di Sleman.

Namun, ujar Yuyun, ia masih sering kesulitan memenuhi pesanan dalam jumlah banyak karena usaha yang dijalankan bukan kelas konveksi tapi level butik.

Alasannya, karena selama ini saya hanya dibantu tiga penjahit untuk mengerjakan order tas yang per bulan mencapai 60 hingga 70 unit. Ia mengatakan tenaga pendukung yang dimilikinya masih minim karena pekerjaan menjahit kulit memang butuh keterampilan khusus.

"Tidak sembarang penjahit bisa melakukannya. Tingkat kesulitannya tinggi. Harus sekali jalan karena kalau sudah cacat, tidak bisa diperbaiki," katanya.

Yuyun mengaku bisnis itu memang menjanjikan keuntungan. Dalam sebulan, pria yang mulai menjalani usaha tas kulit pada Maret 2013 itu, omzetnya minimal Rp50 juta.
"Guna memperluas segmen pasar, produk tas berbahan kulit sapi dikreasikan dalam beberapa kelas. Untuk level low, harga di kisaran Rp250 ribu-Rp300 ribu per buah, sedangkan kelas menengah Rp350  ribu-Rp700 ribu," katanya.

Ia mengatakan untuk kelas tinggi, harga mulai Rp700 ribu hingga menembus Rp5 juta. "Perbedaan mendasar dari tiga macam kelas produk itu terletak pada jenis bahan yang digunakan. Untuk kelas low, bahan tas lebih banyak menggunakan kain kanvas," katanya.

Dalam hal strategi pemasaran, Yuyun lebih memilih cara dalam jaringan. "Promosi kami cenderung lewat online dalam bentuk website maupun sosial media karena menguntungkan, dan jangkauannya lebih luas," katanya.


Selain tas, industri rumah tangga itu juga memproduksi jaket berbahan kulit domba. Namun pengerjaannya masih mengandalkan penjahit dari Bandung. Satu jaket dijual dengan harga minimal Rp1,3 juta.

Mengapa Sebagian Pria Bisa Menjadi Sangat Boros Keuangan

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh sekelompok peneliti dari Universitas Minnesota, Amerika Serikat (AS), menunjukkan bahwa pria cenderung bersikap boros ketika populasi wanita di sekitarnya jarang.

Studi yang dilakukan pada 120 orang pria ini dibagi dalam dua eksperimen. Pada eskperimen pertama, para responden diberikan beberapa artikel koran yang menjelaskan tentang kondisi populasi lokal, yakni mengenai lebih banyak wanita atau pria.

Setelahnya, para responden tersebut ditanyai mengenai pola pengeluaran dan tabungan mereka jika mereka berada dalam situasi seperti di artikel tersebut.

Pada pria yang membaca artikel dengan penjelasan bahwa wanita lebih sedikit populasinya dibanding pria, mereka mengaku menabung sebanyak 42 persen lebih rendah setiap bulannya, dan melakukan pinjaman sekitar 84 persen lebih banyak setiap bulannya.

Eksperimen lain yang terpisah, para responden disuguhi dengan beberapa gambar yang menunjukkan beberapa rasio jumlah pria dan wanita yang berbeda di dalamnya.

Lalu mereka diminta untuk memilih antara menghabiskan 20 dolar AS (sekitar Rp236 ribu) atau 30 dolar AS (sekitar Rp354 ribu) setiap bulannya. Lagi, para responden mengaku akan mengeluarkan lebih banyak uang ketika berhadapan dengan foto yang menunjukkan rendahnya jumlah wanita yang terdapat di dalamnya.

Hipotesis yang diambil dari studi tersebut adalah keputusan pria dalam pola keuangannya tidak ditentukan dalam keadaan sadar. Pria sebenarnya tidak peka terhadap jarangnya populasi wanita, namun terpacu ketika jumlah populasi pria lebih banyak dibandingkan wanita.

Ketika jumlah pria sangat besar, maka pria akan merasa memiliki saingan dalam banyak hal. Hal tersebut lah yang membuat pria menjadi lebih impulsif, kompetitif, dan cenderung mengeluarkan uang lebih banyak untuk tampil terdepan.

Di kehidupan nyata, hipotesis tersebut terbukti benar. Setelah melakukan penelitian pada para responden, peneliti terkait turut menemukan fakta bahwa pria muda lajang di kebanyakan kota besar di AS, di mana terdapat lebih banyak pria dibanding wanita, memiliki kartu kredit lebih banyak dan batas utang yang tinggi.


Sebaliknya, pola pengeluaran wanita tidak terpengaruh perbedaan rasio. Wanita juga tidak melihat bahwa pola pengeluaran pria bergantung pada rasio jenis kelamin. Meskipun begitu, wanita sangat menganjurkan pria lajang untuk lebih banyak mengeluarkan uang saat berkencan dan di momen-momen tertentu dengan lawan jenis. 

Selasa, 26 Januari 2016

Boxfresh Tawarkan Desain Segar di Tahun 2016

http://static.ciputraentrepreneurship.com/thumbs/billy/artikelVoll-12745-org.jpg
Pada tahun 2015 kemarin, Boxfresh membuat pernyataan yang cukup mengejutkan dengan menyetop produksi lini pakaian mereka dan berkonsentrasi pada lini sepatu.

Sehingga brand asal London, Inggris, ini hanya akan meluncurkan sepatu terbaru untuk koleksi spring/summer 2016.

"Konsumen Boxfresh tahun lalu lebih didominasi pada pembelian sepatu. Dengan berbagai jenis sepatu kami yang beragam, yang menjadi kunci bisnis Boxfresh, sehingga kami memusatkan fokus pada kekuatan lini sepatu ini," kata Nick Drury selaku Head of Design Boxfresh.

Boxfresh terlihat lebih konsisten dalam menangani desain sepatunya. Terlihat sepatu kulit yang minimalis, kemudian boots yang menggabungkan bahan kulit serta suede, dan sneakers warna-warni berbahan nylon yang sangat ringan.

Pilihan ragam sepatu seperti di atas dikarenakan konsumen utama Boxfresh adalah kaum pria yang suka dengan tantangan baru, pria yang mencari sebuah brand yang nyaman dipakai untuk kegiatan sehari-hari mereka sekaligus memiliki tampilan yang gaya.

Untuk tahun 2016 sendiri, Boxfresh memperkenalkan sepatu ringan dan nyaman dengan konsep cupsole yang diberi nama Sandon. Selain itu, koleksi sepatu Icon ditingkatkan kualitasnya dengan menambah bahan kulit premium. Ada juga sepatu Hortik yang terinspirasi dari kota metropolitan.

Produk yang sukses di Inggris dan Jerman ini ingin memperluas jaringannya di kawasan lain, seperti Kanada, Australia, dan beberapa negara di Asia.

Selengkapnya: http://www.imart89.com/blog/read/131/boxfresh-tawarkan-desain-segar-di-tahun-2016

The North Face Kembali Gagas Inovasi Lewat Sutra Laba-Laba

http://static.ciputraentrepreneurship.com/thumbs/billy/tnf.jpg
The North Face, Spiber, dan Goldwin kini bekerjasama dalam mengembangkan sebuah produk pakaian komersil yang dibuat melalui proses fermentasi mikroba yang tidak bergantung pada petroleum, melainkan sutera laba-laba sintetis.

Prototipe ini mereka beri nama Moon Parka.

Perusahaan berbasis di Jepang, Spiber, membuat sutera laba-laba sintetis tersebut, kemudian bekerjasama dengan Goldwin dan The North Face untuk mengubah material tersebut menjadi sebuah jaket.

"Produk ini merupakan inovasi baru bagi The North Face, yang mana membawa ide segar ke pasaran dan menangkap imajinasi orang-orang di seluruh dunia," ujar Vice President of Global Product The North Face, Joe Vernachio.

Bahan sutera laba-laba sintetis dinilai memiliki kekuatan dan elastisitas yang tinggi, membuka peluang untuk ketersediaan materi dalam manufaktur pakaian.

"The Moon Parka menjadi pakaian pertama di dunia yang dibuat dari materi protein buatan. Proses ini memberikan kami tantangan mengenai apa yang akan kami hadapi nanti," tambahnya.

Saat ini kebanyakan pakaian dibuat dari polyester, nylon, dan materi polymer sintetis lainnya, sehingga membuat materi dengan bahan dasar protein dan fiber yang bisa diperbaharui memperlihatkan perkembangan yang signifikan pada industri pakaian.


The North Face belum memberikan tanggal pasti untuk peluncuran Moon Parka ini, namun mereka ingin segera merilisnya di awal tahun 2016 ini. Selengkapnya: http://www.imart89.com/blog/read/130/the-north-face-kembali-gagas-inovasi-lewat-sutra-laba-laba

Funika Terapkan Furnitur dengan Green Label

http://static.ciputraentrepreneurship.com/thumbs/billy/funika.jpg
Funika yang merupakan perusahaan berbasis di Singapura ini memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun di industri furnitur.

Yang membuatnya berbeda dari produk furnitur lainnya adalah Funika menawarkan furnitur yang ramah lingkungan serta telah mengikuti aturan Green Production dari Dewan Lingkungan Hidup Singapura (Singapore Environment Council).

Proses produksi dilakukan di Malaysia dengan persediaan pohon karet tua yang melimpah untuk menghasilkan particle board yang tidak berbau, kuat, stabil, dan tahan lama.
Selain itu, Funika juga menggunakan pipa PVC yang bisa didaur-ulang dan rak yang terbuat dari kain non rajut.

Funika juga menawarkan kepraktisan dalam produk furniturnya. Funika telah menggunakan teknologi yang sudah dipatenkan, yaitu No Tools Technology, yang mana memungkinkan Anda untuk merakit sendiri furnitur ini tanpa bantuan alat apa pun.

Seperti contoh, saat Anda membeli sebua meja komputer multifungsi, Anda mendapatkan buku petunjuk serta cara pemasangan yang mudah tanpa menggunakan alat bantuan.

Selain itu, produk dari Funika juga dikenal memiliki fungsi lebih dari satu. Ada meja komputer yang juga befungsi sebagai rak untuk menyimpan buku.

Produk inovatif ini sudah terkenal di mancanegara, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok.

Selain menggunakan merek Funika, produk ini juga dipasarkan dengan merek Furinno dan Funature. Selengkapnya: http://www.imart89.com/blog/read/129/funika-terapkan-furnitur-dengan-green-label